Inilah 3 Buku Kontroversial Yang (Sempat) Dilarang Beredar Indonesia

March 6, 2018
Share this post:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Buku adalah jembatan ilmu. Tentunya Anda sangat mengenal pepatah tersebut karena sering diajarkan di sekolah dasar hingga bangku perkuliahan. Dengan membaca buku sesering mungkin maka pengetahuan kita akan bertambah dan kita menjadi memiliki suatu pandangan baru yang bisa berguna untuk hidup kita.

Namun apa jadinya bila ternyata terdapat beberapa buku baru yang beredar dan ternyata memiliki kandungan bacaan yang bisa membuat orang menjadi terprovokasi ? Selain judi bola, prostitusi dan narkoba yang dilarang keras di negeri ini,  3 buku kontroversial berikut ini juga sempat di larang beredar di Indonesia karena isi buku yang dianggap bertentangan dan tidak patut. Buku apa sajakah itu ? Simak penjelasan di bawah ini.

Buku Demokrasi Kita, Karya Mohammad Hatta

Tahukah Anda jika buku karya Moh Hatta ini sangat kontroversial di awal – awal kemerdekaan ? Buku ini bahkan sempat dilarang oleh presiden pertama Republik Indonesia yaitu Presiden Soekarno untuk beredar di Indonesia. Aneh bukan, padahal seperti yang kita tahu Bung Hatta dan Bung Karno seperti garpu dan sendok, yang tidak bisa dipisahkan.

Tidak sejalan dengan pemikiran Bung Hatta, Bung Karno malah melarang peredaran buku ini karena dianggap akan membuat stabilitas pemerintahan Indonesia di awal kemerdekaan akan terganggu. Pada dasarnya buku ini memuat pikiran Bung Hatta yang menganggap jika perilaku Bung Karno sudah menjadi otoriter. Bahkan Majalah Panji di tahun 1960 pernah menerbitkan larangan untuk membaca, menyiarkan hingga menyimpan buku ini karena di anggap sangat berbahaya.

 

Buku Dalih Pembunuhan Massal Oleh John Rossa

Buku Dalih Pembunuhan Massal ini sendiri sejatinya menceritakan peristiwa terbaru mengenai PKI dan Gerakan 30 September 1965 atau yang biasa kita singkat dengan G30SPKI. Buku ini di karang oleh seorang berkebangsaan Kanada yang bernama John Rossa. Dia ini adalah seorang sejarawan yang suka meneliti negara- negara di Asia Tenggara.

Buku ini merupakan buku kontroversial kedua yang membahas tentang pembunuhan massal di jaman PKI berkuasa. Untuk membuat buku ini, John Rossa harus menemukan banyak sumber – sumber dan referensi terbaru mengenai apa yang terjadi sebenarnya di zaman PKI. Untuk itu langkah pertama yang ia ambil ialah mengumpulkan semua literatur yang sudah ada dan menganalisisnya kembali.

Salah satu kesimpulan yang berhasil ia temukan adalah bahwa organ inti dari PKI bukanlah Aidit, namun seseorang yang bernama Sjam, yang merupakan anggota Biro Khusus yang dibentuk oleh Aidit.

Buku ini bahkan sempat dilarang beredar Kejaksaan Agung Jakarta pada tanggal 23 Desember 2009 karena dianggap menganggu ketertiban umum. Namun berbeda dengan penerbit buku ini yang menyatakan bahwa buku ini merupakan salah satu buku sumbangan untuk ilmu sejarah yang belum pernah di teliti sebelumnya dan juga menjadi salah satu buku ilmiah terbaik di bidang ilmu sosial.

 

Buku Membongkar Gurita Cikeas, Karya George Junus Aditjondro

Buku ketiga yang sempat heboh dan dilarang beredar adalah buku karya George Junus Aditjondro yang berjudul Membongkar Gurita Cikeas. Buku ini pernah booming pada masa kepemimpinan Presiden Indonesia yang keenam yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Isi dari buku kontroversial ini adalah membahas tentang nasib Bank Century yang tidak pernah diketahui akar permasalahannya.

Di dalam buku ini George pun sempat mengikut sertakan nama SBY dan keluarganya yang tentu saja membuat SBY marah sehingga harus bergerak melalui juru bicara kepresidenan. Sangat menarik bukan ?