Tertarik Untuk Self Publishing? Pahami Kelebihan dan Kekurangannya Berikut Ini

March 2, 2018
Share this post:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

Apa itu self publishing? Sekilas dari istilahnya dapat diartikan sebagai penerbitan pribadi. Ini merupakan salah satu bentuk kemajuan di bidang penerbitan di Indonesia, dimana seorang penulis bisa menjadi penerbit yang mandiri. Apa maksudnya? Jadi, self publishing adalah istilah yang diberikan kepada seorang penulis yang menulis sendiri bukunya, mengedit sendiri, membuat desain cover sendiri, menerbitkan sendiri dan melakukan permohonan ISBN juga dilakukan sendiri. Sehingga disini disebut sebagai penulis mandiri karena segala proses mulai dari penerbitan hingga penjualan dilakukan sendiri tanpa melalui penerbit.

Kamu hobi menulis dan tertarik untuk menjadi self publishing? Lebih baik pelajari kelebihan dan kekurangannya berikut ini.

 

Kelebihan dan Kekurangan Self Publishing

 

Kelebihan Self Publishing

  1. Tidak terikat dengan penerbit, sehingga untuk menentukan tema, desain cover, layouting naskah dan keperluan lainnya dilakukan sesuai dengan kesukaan diri sendiri. Meskipun naskah belum tentu laku di pasaran, namun segala bentuk perbaikan berada di tangan penulis sendiri.
  2. Penulis yang sekaligus menjabat sebagai penerbit bertanggung jawab terhadap segala proses mulai dari kepenulisan, editing, penerbitan hingga menentukan harga jual. Sehingga segala bentuk keuntungan akan diterima penulis seratus persen karena tidak terikat perjanjian kerja sama dengan penerbitan. Selain itu biasanya naskah buku hasil terbitan self publishing dijual lebih terjangkau sehingga memudahkan pemasaran.
  3. Karena tidak menggunakan jasa penerbitan, self publishing tidak perlu mengantri bukunya diterbitkan dibanding dengan menggunakan jasa penerbit yang biasanya menunggu giliran untuk terbit.
  4. Pemasaran lebih fleksibel, karena selain membuat buku cetak, penulis juga bisa menjualnnya dalam bentuk ebook yang bisa dijual melalui Amazon, Barnes & Noble, Google, Kobo dan Apple.
  5. Penulis tidak akan direpotkan dengan urusan administrasi dan dapat memantau perkembangan bukunya kapan saja dari waktu ke waktu.

 

Kerugian

  1. Sayangnya untuk mendapatkan nomor ISBN untuk naskah buku yang diterbitkan, penulis harus mengeluarkan modal besar untuk mendirikan badan usaha sendiri agar diakui.
  2. Sebagian besar penulis self publishing kurang menguasai ilmu editing, sehingga terkadang desain cover dan layouting kurang menarik minat pembaca. Jika ingin menyewa jasa desain grafis, tentu juga mengeluarkan dana yang tidak sedikit.
  3. Meskipun tidak bekerja sama dengan penerbit, tetap saja penulis membutuhkan penerbit untuk mencetak buku-bukunya. Karena sifatnya reguler, sehingga untuk menyewa jasa penerbit akan lebih mahal dibandingkan melalui kerjasama. Apalagi harga cetak per bukunya tergantung dari ketebalan dan jenis kertas yang digunakan. Selain itu, penulis juga jarang bisa memprediksi jumlah buku yang harus dicetak. Jika terlalu banyak, tentu saja akan rugi apabila naskah tidak laku atau ternyata ada yang perlu diedit.
  4. Biaya pemasaran bisa sangat membengkak karena dilakukan sendiri tanpa sponsor. Apalagi jika ingin mengadakan book launching, tentu saja anggaran untuk penyelenggaraannya tidak sedikit.
  5. Segala bentuk kerugian dan tanggung jawab isi naskah berada di tangan penulis. Sehingga jika ternyata terjadi tuntutan terhadap isi naskah buku yang sudah terbit, tanggung jawab sepenuhnya berada pada penulis.
  6. Naskah buku hasil terbitan self publishing masih kurang laku di pasaran.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa self publishing kurang cocok digunakan untuk penulis pemula yang belum memiliki nama. Karena self publishing terlalu berisiko untuk para pemula dalam hal penyediaan dana. Oleh karena itu, jika kalian tertarik untuk melakukannya, kenali dulu kiat-kiat suksesnya dan apa saja kendalanya.